Breaking
Artikel

Majelis Sholawat Bukan Bahan Candaan

19:37 WIB 53 kali dibaca 2 menit baca
A

Ditulis oleh

Afkar Aulia Alhamdani

Majelis Sholawat Bukan Bahan Candaan
Majelis Sholawat Bukan Bahan Candaan

Ada dua kata yang begitu indah ketika disandingkan: majelis dan shalawat.

Majelis adalah perkumpulan, tempat manusia duduk bersama dalam sebuah tujuan. Sementara shalawat secara umum dipahami sebagai pujian dan doa kepada Rasulullah. Maka ketika keduanya dirangkai menjadi majelis shalawat, semestinya yang hadir bukan sekadar keramaian, tetapi juga kecintaan kepada Rasulullah, dzikir kepada Allah, dan adab yang mencerminkan akhlak beliau.

Namun hari ini, ada fenomena yang layak kita renungkan.

Sebagian majelis shalawat mulai bergeser menjadi panggung hiburan. Bukan hanya jamaah yang larut dalam suasana, tetapi vokalis hadrah perempuan yang tampil di atas panggung pun terkadang ikut berjoget ketika membawakan lantunan shalawat. Di sisi lain, dalam beberapa acara, batas interaksi antara laki-laki dan perempuan juga menjadi semakin kabur, termasuk adanya praktik nyawer kepada penampil.

Pertanyaannya sederhana tetapi penting:

Ketika shalawat dibawakan dengan cara yang menghilangkan adab, apakah kita masih sedang menjaga ruh majelis shalawat, atau justru sedang menjadikan shalawat sebagai latar belakang sebuah pertunjukan?

Kita tentu tidak sedang mempermasalahkan perempuan yang bershalawat. Bukan pula mempersoalkan seni hadrah sebagai bagian dari ekspresi kecintaan kepada Rasulullah. Yang patut direnungkan adalah bagaimana sebuah penampilan ditempatkan dalam majelis yang membawa nama shalawat.

Sebab panggung memiliki daya tariknya sendiri. Ketika penampil berjoget, penonton bersorak, kemudian nyawer berlangsung, batas antara majelis ibadah dan panggung hiburan menjadi semakin tipis.

Padahal mencintai Rasulullah semestinya tidak berhenti pada suara yang merdu ketika melantunkan shalawat. Cinta juga membutuhkan adab.

Kita boleh bergembira. Kita boleh bersenandung dengan shalawat. Kita boleh menghidupkan seni hadrah. Tetapi jangan sampai cara kita merayakan kecintaan kepada Rasulullah justru kehilangan nilai kesopanan dan kehormatan yang diajarkan oleh beliau.

Sebab yang perlu kita tanyakan bukan:

“Apakah mereka sedang bershalawat?”

Tetapi juga:

“Apakah cara kita bershalawat sudah mencerminkan adab kepada Rasulullah?”

Inilah yang perlu menjadi bahan muhasabah.

Jangan sampai nama majelis shalawat terdengar begitu mulia, tetapi praktik di atas panggung justru membuat maknanya semakin jauh.

Shalawat bukan sekadar lantunan.

Ia adalah ekspresi cinta. Dan cinta kepada Rasulullah semestinya melahirkan adab.

Karena itu, menjaga kehormatan majelis shalawat bukan berarti memusuhi seni, bukan pula membenci para pelantun shalawat.

Justru karena kita mencintai shalawat, kita ingin nama yang mulia itu tetap diiringi dengan kemuliaan sikap.

A

Kontributor

Afkar Aulia Alhamdani

Bagikan berita ini: