Breaking
Artikel

Membumikan Kritik Sanad: Menjadikan Ilmu Hadis sebagai Anti-Virus Hoaks Digital

10:05 WIB 62 kali dibaca 4 menit baca
M

Ditulis oleh

M Deni Hidayatullah

Membumikan Kritik Sanad: Menjadikan Ilmu Hadis sebagai Anti-Virus Hoaks Digital
Membumikan Kritik Sanad: Menjadikan Ilmu Hadis sebagai Anti-Virus Hoaks Digital

Membumikan Kritik Sanad: Menjadikan Ilmu Hadis sebagai Anti-Virus Hoaks Digital

Hari-hari ini, kebenaran di ruang digital terasa semakin murah sekaligus rentan. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah lanskap siber secara drastis; memproduksi hoaks kini tak lagi membutuhkan keahlian desain atau pemrograman yang rumit. Hanya dalam hitungan detik, siapa pun bisa merekayasa narasi teks yang persuasif, memanipulasi foto, hingga menciptakan video palsu (deepfake) yang tampak sangat meyakinkan. Akibatnya, netizen modern didera information overload sebuah kondisi psikologis dan kognitif di mana banjir informasi mengalir begitu deras hingga melampaui kapasitas manusia untuk mencernanya.

Celakanya, budaya digital kita hari ini sering kali digerakkan oleh dorongan impulsif, di mana jempol bergerak jauh lebih cepat daripada akal sehat. Begitu sebuah informasi terasa bombastis atau memuaskan bias personal, ia langsung dibagikan tanpa verifikasi, memicu penyebaran disinformasi secara masif di media sosial. Namun, menghadapi labirin distopia digital yang membingungkan ini, umat Islam sebenarnya tidak perlu kebingungan mencari pegangan baru. Kita telah memiliki perangkat lunak verifikasi informasi tercanggih di dunia yang diwariskan oleh tradisi intelektual ulama klasik, yaitu metodologi kritik sanad.

Jika kita menengok sejarah, situasi dunia siber hari ini sebenarnya memiliki kemiripan yang mengejutkan dengan realitas sosiopolitik pada abad pertama dan kedua Hijriah. Pasca-terjadinya fitnah politik besar (al-fitnah al-kubra) di dunia Islam, umat Muslim saat itu juga mengalami banjir informasi berupa sirkulasi hadis palsu yang masif. Kepentingan politik, ekonomi, hingga fanatisme golongan mendorong oknum-oknum tertentu untuk merekayasa ucapan demi melegitimasi kepentingan mereka. Menghadapi krisis epistemologis yang mengancam autentisitas ajaran agama tersebut, para ulama tidak tinggal diam. Mereka menciptakan metodologi penyaringan kebenaran yang sangat rigid, yang dikenal sebagai kritik sanad (naqd as-sanad) dan mengodifikasikannya dalam ilmu Rijal al-Hadith.

Esensi dasar dari metodologi ini direkam dengan sangat apik oleh Imam Muslim dalam pengantar kitab Shahih-nya. Beliau mengutip pernyataan tabiin terkemuka, Muhammad bin Sirin, yang menegaskan: "Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian" (HR. Muslim, Muqaddimah Shahih Muslim, No. 5). Melalui kaidah ini, para ulama menetapkan bahwa sebuah informasi tidak boleh hanya dinilai dari keindahan atau kehebohan isinya (matan), melainkan harus dilacak secara ketat siapa pembawa beritanya (sanad). Jika sang informan terbukti memiliki cacat moralitas (‘adalah) atau dikenal pelupa dan ceroboh dalam menjaga akurasi datanya (dhabit), maka otomatis seluruh informasi yang dibawanya akan ditolak demi kemaslahatan publik.

Metodologi klasik yang kokoh ini dapat kita turunkan menjadi langkah taktis dan praktis sebagai anti-virus bagi netizen modern dalam menyaring informasi harian di ruang siber. Pertama, lakukan Kritik Sanad Makro (Verifikasi Sumber). Saat menerima pesan berantai yang viral di grup WhatsApp atau potongan video kontroversial di TikTok, berhentilah sejenak. Jangan terfokus pada seberapa mengejutkan matan (isi) berita tersebut. Lacak sanad digitalnya: akun mana yang pertama kali mengunggahnya? Apakah ia merupakan rawi anonim (majhul), akun bot yang sengaja digerakkan untuk mesin propaganda, atau lembaga pers resmi yang kredibel?

Kedua, terapkan Uji ‘Adalah (Integritas Sumber). Periksa integritas moral dari media atau akun penyebar. Jika sebuah portal berita atau akun media sosial memiliki rekam jejak digital yang gemar memelintir fakta demi mengejar clickbait atau menyemai kebencian, maka dalam kacamata ilmu hadis, sumber tersebut dikategorikan sebagai dhaif (lemah) atau bahkan matruk (ditinggalkan), sehingga haram untuk dipercaya dan disebarluaskan.

Ketiga, lakukan Uji Dhabit (Akurasi Sistem AI). Di era di mana kita semakin ketergantungan menggunakan chatbot berbasis AI untuk mencari referensi cepat, netizen harus sadar bahwa teknologi ini memiliki kelemahan bawaan berupa halusinasi AI (AI hallucination) sebuah kondisi di mana mesin menyajikan jawaban salah dengan struktur bahasa yang tampak ilmiah dan meyakinkan. Menguji silang (cross-check) keakuratan data yang dihasilkan AI dengan sumber otoritatif primer adalah bentuk modern dari memastikan sifat dhabit (keakuratan catatan dan ingatan) dalam transmisi pengetahuan demi menghindari kesesatan informasi.

Pada akhirnya, menghidupkan kembali tradisi tabayyun lewat nalar kritik sanad di era digital bukan lagi sekadar anjuran moralitas keagamaan yang kering atau urusan masa lalu yang usang. Sebagaimana ditegaskan oleh pakar komunikasi siber dalam kajian etika digital, kejujuran epistemologis di ruang publik virtual adalah fondasi utama dari kedamaian sosial. Mengklik tombol share tanpa kejelasan sumber sama saja dengan menjadi mata rantai penyebaran kepalsuan yang merusak tatanan sosial kemanusiaan. Mengadopsi ketatnya algoritma tabayyun para ulama klasik adalah cara konkret Muslim modern untuk memuliakan akal sehat, menegakkan etika informasi, dan merawat ukhuwah di tengah kepungan badai disinformasi global.

M. Deni Hidayatullah adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas Annuqayah yang aktif sebagai akademisi dan peneliti sosiologi pendidikan.

M

Kontributor

M Deni Hidayatullah

Bagikan berita ini: